Kabar burung di industri teknologi menyebutkan bahwa Samsung sedang melakukan eksperimen ambisius dengan merancang lini Galaxy Book yang meninggalkan Windows demi Android 17. Mengusung antarmuka One UI 9, langkah ini dianggap sebagai perjudian besar yang sangat berani bagi raksasa asal Korea Selatan tersebut.

Meski terdengar radikal, strategi ini sebenarnya selaras dengan pergeseran tren industri. Mengingat upaya Google dalam mengintegrasikan ChromeOS dan Android, langkah Samsung ini bisa jadi merupakan fondasi bagi era baru komputasi yang lebih fleksibel. Namun, karena detail teknis yang masih sangat terbatas, masih menjadi tanda tanya besar apakah Samsung akan mengadopsi platform hasil merger Google atau justru membangun ekosistem Android murni miliknya sendiri.
Android di Laptop dan Bisa Fleksibel

Apabila proyek ini resmi diluncurkan, lini Galaxy Book berbasis Android diprediksi akan merambah berbagai segmen pasar, mulai dari kategori entry-level hingga model flagship. Samsung dikabarkan tetap mempertahankan identitas desainnya yang ramping dan eksklusif. Menariknya, integrasi fitur Galaxy AI akan menjadi nilai jual utama, memberikan dimensi baru pada pengalaman komputasi yang lebih cerdas dan terintegrasi bagi para penggunanya.
Secara konseptual, langkah ini dapat dipandang sebagai evolusi besar dari Samsung DeX, yang bertujuan mentransformasi Android menjadi pengalaman desktop yang lebih matang dan intuitif. Melalui One UI 9, Samsung tampaknya berupaya menyempurnakan sinkronisasi antara perangkat mobile dan desktop dalam satu ekosistem yang utuh.
Kendati demikian, hambatan terbesar tetap terletak pada aspek produktivitas dan kompatibilitas perangkat lunak. Sejauh ini, Android belum sepenuhnya mampu menandingi kemapanan ekosistem desktop tradisional untuk beban kerja profesional. Tanpa dukungan aplikasi industri yang memadai, Galaxy Book berbasis Android berisiko kesulitan dalam berkompetisi dengan dominasi laptop berbasis Windows maupun macOS.
